Dalam suatu kesempatan seminar, saya menyaksikan seorang pembicara pengembangan kepribadian yang sangat terkenal. Ia dengan begitu lugasnya berbicara di depan. Rasanya dia bisa membius seluruh peserta untuk takjub dan terheran-heran dengan gaya ekspresifnya dalam membawakan acara seminar itu.
Dalam sesi ice breaking dia membicarakan bahwa pertandingan final sepakbola antara PSMS Medan melawan Sriwijaya FC, yang seyogyanya diadakan di Jakarta akhirnya dipindahkan ke Bandung.
Lalu dia menanyakan kepada peserta seminar, “Siapa yang menonton langsung pertandingan final itu, mohon angkat tangan!” Alhasil ada satu orang yang angkat tangan, dan serentak beberapa orang peserta lain mengeluarkan suara yang kurang asyik didengar seperti menyoraki orang lain, “Wuuu...”.
Tidak hanya itu, pembicara juga tanpa sadar mulai membuat si orang yang angkat tangan tadi menjadi terkesan malu karena pembicara kemudian berkata, “saya bingung, karena ternyata ada orang yang menonton pertandingan yang jelas-jelas tidak dibuka untuk umum karena pertandingan semi-final sebelumnya diwarnai dengan kebrutalan penonton di Jakarta dan akhirnya membuat PSSI tidak mendapat izin untuk membuka pertandingan ini untuk umum”.
Wajah orang yang mengangkat tangan itu berubah menjadi merah dengan pernyataan sang pembicara terkenal itu. Saya sulit menduga gejolak apa yang ada dalam dirinya karena pernyataan pembicara yang baru saja dia dengar, atau karena sorakan kecil peserta seminar.
Kemudian seminar dilanjutkan dengan topik yang sudah diagendakan. Tentang mengetahui apakah seseorang memberikan informasi yang salah kepada kita dalam hubungan kerja atau hubungan interpersonal yang kita miliki.
Pendek cerita, di sesi makan siang, saya mengambil posisi di salah satu sudut meja makan di area seminar. Ternyata orang yang tadi mengangkat tangan tersebut berada di meja, persis dekat di sebelah kiri saya, bersama teman lainnya. Apa yang sedang mereka bicarakan begitu jelas terdengar telinga saya.
Satu tanya-jawab yang menarik, dan memberi saya pelajaran penting ketika itu, saat teman duduknya bertanya, “Bapak, pekerjaannya apa?” Lalu dia menjawab, “Yah, begitulah.. serabutan saja. Sementara masih lebih sering menjadi kameramen untuk laporan olahraga.” Kemudian seabrek pembicaraan lain yang mereka lakukan hingga waktu makan siang selesai. –Bread For Friends–


