![]() |
| Source: Here |
Percayalah bahwa Allah sangat baik pada yang terluka.
Luka, adakah luka pada dirimu? Perhatikan setiap senti tubuhmu, apakah kamu menemukan bekas luka?
Bekas luka menjadi semacam tanda atau lebih tepatnya menjadi sebuah kenangan yang mengingatkan kita tentang kenapa luka itu terjadi, bagaimana rasanya, apa sebabnya, kapan terlukanya, dan (mungkin) siapa yang menyebabkan luka tersebut.
Saya rasa hampir semua manusia memiliki luka pada tubuhnya, pernah merasakan apa itu luka, yang berarti ada bekas luka yang masih menempel dan terlihat jelas walau sudah tidak terasa apa-apa.
Bisa jadi, justru orang yang terdekat dengan kamulah yang terkadang menjadi orang yang paling mudah melukaimu. Akan tetapi yang terpenting adalah pelajaran apa sih yang didapat dari sebuah luka tersebut.
Bekas luka menjadi semacam tanda atau lebih tepatnya menjadi sebuah kenangan yang mengingatkan kita tentang kenapa luka itu terjadi, bagaimana rasanya, apa sebabnya, kapan terlukanya, dan (mungkin) siapa yang menyebabkan luka tersebut.
Saya rasa hampir semua manusia memiliki luka pada tubuhnya, pernah merasakan apa itu luka, yang berarti ada bekas luka yang masih menempel dan terlihat jelas walau sudah tidak terasa apa-apa.
Bisa jadi, justru orang yang terdekat dengan kamulah yang terkadang menjadi orang yang paling mudah melukaimu. Akan tetapi yang terpenting adalah pelajaran apa sih yang didapat dari sebuah luka tersebut.
Ya, akan ada sebuah pelajaran manis dari sakitnya sebuah luka.
Entah karena tersandung saat berjalan atau tanpa sengaja nendang kaki kursi, saat lari terlalu semangat kemudian terjatuh, saat belajar naik sepeda, jatuh dari motor, tergores saat bermain pisau atau gunting dan lain sebagainya. Semua meninggalkan luka dari yang hanya terasa perih sampai berdarah parah. Dari yang masih membekas sampai yang sudah hilang bekas lukanya.
Saya sendiri lupa luka apa saja yang pernah ada di tubuh saya. Terkadang ada luka yang bekasnya tak terlalu terlihat mata. Yang pasti, saya berdoa mudah-mudahan saya bukan yang termasuk sering terluka.
Akan tetapi, luka ternyata membuat saya mengerti apa itu arti hati-hati saat berlari, luka membuat saya akhirnya lancar berjalan, berlari, dan berkendara, secara tidak langsung luka juga membuat saya bisa menggunakan gunting pun pisau dengan baik dan ada berbagai hal yang saya pelajari dari sebuah luka.
Secara umum, alhamdulillah, pada tubuh saya tidak ada bekas luka yang membekas sangat lama. Hampir semua luka yang pernah saya alami, sembuh dan tak berbekas. Memang ada satu luka yang masih terlihat samar-samar pada tumit kaki kanan saya. Tentu saja, masih teringat dalam benak ini bagaimana luka itu terjadi.
Semasa masih anak-anak dulu, di mana masa itu adalah masa yang bagi saya pribadi sebagai masa anak-anak yang lebih baik daripada masa anak-anak jaman sekarang (penilaian subjektif, red.).
Asyik bermain layang-layang di sawah bersama dengan teman-teman sejawat. Momen yang paling menyenangkan dari main layang-layang adalah saat mengendalikan layangan milik kita masing-masing saat beradu dengan layangan milik anak lainnya. Gaya anak-anak yang sok punya strategi, saling membanggakan tekhnik mengadunya masing-masing. Tarik, ulur, Gibrig!
Satu momen lain yang menyenangkan dari bermain layang-layang adalah ketika semua anak berlari, mengejar, berlomba, paboro-boro layangan yang terputus kalah setelah beradu dengan layangan lainnya. Hampir semua anak yang mengejar layangan yang telah kalah itu memiliki visi yang kuat untuk mendapatkannya. Saking semangatnya anak-anak bisa melakukan berbagai cara. Dari semua jerih payah mereka akan ada rasa bangga, senang, luar biasa jika mereka mendapatkan layangan yang tak seberapa harganya dibandingkan dengan usaha mereka mendapatkannya.
Dari usaha masa anak-anak itulah luka di tumit kaki sebelah kanan saya tercipta. Sawah yang seyogyanya adalah bukan tempat bermain dipenuhi anak-anak yang bergembira ria. Suatu ketika kami semua mengejar satu layangan yang mendekat ke area persawahan tempat kami bermain. Padahal saat itu kami sedang asyik bermain sepak-bola. Dahsyat, saat itu kami bermain sepak-bola tanpa alas kaki, nyeker!
Naas bagi saya, tergabung dengan anak-anak lain yang mengejar layangan kalah, tanpa alas kaki, terinjaklah sebuah pecahan kulit batok kelapa. Masuk menembus kulit tumit kaki. Tak berselang lama bergelimanglah darah di kaki seketika.
Itulah luka yang hingga hari ini masih membekas. Apa pelajaran yang bisa diambil? Pendapat saya dikarenakan luka itu, jika dirasa tempat bermainmu adalah bukan tempat bermain sesungguhnya, atau sebuah tempat yang tiba-tiba saja berubah fungsi jadi tempat bermain, berhati-hatilah pada fungsi sesungguhnya dari tempat itu. Kita sewaktu-waktu bisa terluka, bahkan saat kita saat semangat sekalipun. Luka tak pandang bulu.
Tetapi ternyata ada juga luka yang tak terlihat oleh mata, yang tidak terkait dengan anggota lahiriah kita. Kadang, bisa ditutupi penderitanya dengan sangat rapi.
Coba sekarang rasakan hatimu dalam-dalam, adakah bekas luka yang tertanam?
Hampir setiap orang pernah terluka (juga) hatinya. Samakah sifatnya dengan luka pada tubuh kita?
Untuk luka yang satu ini, ada sebagian orang yang mencoba menutupinya dengan senyum agak dipaksa, ada yang membiarkannya menganga lebar dikerubungi kuman-kuman kebencian yang akhirnya menimbulkan dendam dan ada juga yang merawat luka tersebut dan menyembuhkannya dengan memaafkan.
Kesalahan terbesar dari orang-orang yang terluka hatinya adalah mereka tak segera menyembuhkan lukanya. Bukan hanya karena tidak mudah menyembuhkannya, tetapi dia memilih menikmati lukanya. Dia merawat baik-baik telusukan itu agar tetap berada di dalam hatinya. Jadilah orang-orang yang terluka itu sebagai mereka yang enggan berubah.
Namun, yang namanya luka tetap saja luka. Sama seperti luka pada tubuh. Tetap ada pelajaran dari dari luka, tanpa kecuali dengan luka hati.
Apa?
Pelajaran untuk berhati-hati agar kita tak melakukan hal yang sama yaitu menyakiti orang lain atau pelajaran untuk berkaca kepada diri sendiri apa saja yang perlu diperbaiki agar tidak terluka lagi.
Atau pelajaran untuk lebih sabar.
Atau pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih kuat.
Atau mungkin, pelajaran untuk menjadi orang yang lebih bijak dalam segala hal, termasuk dalam mendoakan. Karena konon, doa orang yang sedang tersakiti (hatinya) lebih bertenaga, lebih cepat sampai kepadaNya. Daripada berdoa buruk dan memaki, doakan saja Indonesia dan seisinya baik-baik saja. Saya rasa itu lebih berguna.
Selamat belajar dari luka.
Aan Sopiyan
Inspired by Ades Justitia
Saya sendiri lupa luka apa saja yang pernah ada di tubuh saya. Terkadang ada luka yang bekasnya tak terlalu terlihat mata. Yang pasti, saya berdoa mudah-mudahan saya bukan yang termasuk sering terluka.
Akan tetapi, luka ternyata membuat saya mengerti apa itu arti hati-hati saat berlari, luka membuat saya akhirnya lancar berjalan, berlari, dan berkendara, secara tidak langsung luka juga membuat saya bisa menggunakan gunting pun pisau dengan baik dan ada berbagai hal yang saya pelajari dari sebuah luka.
Secara umum, alhamdulillah, pada tubuh saya tidak ada bekas luka yang membekas sangat lama. Hampir semua luka yang pernah saya alami, sembuh dan tak berbekas. Memang ada satu luka yang masih terlihat samar-samar pada tumit kaki kanan saya. Tentu saja, masih teringat dalam benak ini bagaimana luka itu terjadi.
Semasa masih anak-anak dulu, di mana masa itu adalah masa yang bagi saya pribadi sebagai masa anak-anak yang lebih baik daripada masa anak-anak jaman sekarang (penilaian subjektif, red.).
Asyik bermain layang-layang di sawah bersama dengan teman-teman sejawat. Momen yang paling menyenangkan dari main layang-layang adalah saat mengendalikan layangan milik kita masing-masing saat beradu dengan layangan milik anak lainnya. Gaya anak-anak yang sok punya strategi, saling membanggakan tekhnik mengadunya masing-masing. Tarik, ulur, Gibrig!
Satu momen lain yang menyenangkan dari bermain layang-layang adalah ketika semua anak berlari, mengejar, berlomba, paboro-boro layangan yang terputus kalah setelah beradu dengan layangan lainnya. Hampir semua anak yang mengejar layangan yang telah kalah itu memiliki visi yang kuat untuk mendapatkannya. Saking semangatnya anak-anak bisa melakukan berbagai cara. Dari semua jerih payah mereka akan ada rasa bangga, senang, luar biasa jika mereka mendapatkan layangan yang tak seberapa harganya dibandingkan dengan usaha mereka mendapatkannya.
Dari usaha masa anak-anak itulah luka di tumit kaki sebelah kanan saya tercipta. Sawah yang seyogyanya adalah bukan tempat bermain dipenuhi anak-anak yang bergembira ria. Suatu ketika kami semua mengejar satu layangan yang mendekat ke area persawahan tempat kami bermain. Padahal saat itu kami sedang asyik bermain sepak-bola. Dahsyat, saat itu kami bermain sepak-bola tanpa alas kaki, nyeker!
Naas bagi saya, tergabung dengan anak-anak lain yang mengejar layangan kalah, tanpa alas kaki, terinjaklah sebuah pecahan kulit batok kelapa. Masuk menembus kulit tumit kaki. Tak berselang lama bergelimanglah darah di kaki seketika.
Itulah luka yang hingga hari ini masih membekas. Apa pelajaran yang bisa diambil? Pendapat saya dikarenakan luka itu, jika dirasa tempat bermainmu adalah bukan tempat bermain sesungguhnya, atau sebuah tempat yang tiba-tiba saja berubah fungsi jadi tempat bermain, berhati-hatilah pada fungsi sesungguhnya dari tempat itu. Kita sewaktu-waktu bisa terluka, bahkan saat kita saat semangat sekalipun. Luka tak pandang bulu.
Tetapi ternyata ada juga luka yang tak terlihat oleh mata, yang tidak terkait dengan anggota lahiriah kita. Kadang, bisa ditutupi penderitanya dengan sangat rapi.
Coba sekarang rasakan hatimu dalam-dalam, adakah bekas luka yang tertanam?
Hampir setiap orang pernah terluka (juga) hatinya. Samakah sifatnya dengan luka pada tubuh kita?
Untuk luka yang satu ini, ada sebagian orang yang mencoba menutupinya dengan senyum agak dipaksa, ada yang membiarkannya menganga lebar dikerubungi kuman-kuman kebencian yang akhirnya menimbulkan dendam dan ada juga yang merawat luka tersebut dan menyembuhkannya dengan memaafkan.
Kesalahan terbesar dari orang-orang yang terluka hatinya adalah mereka tak segera menyembuhkan lukanya. Bukan hanya karena tidak mudah menyembuhkannya, tetapi dia memilih menikmati lukanya. Dia merawat baik-baik telusukan itu agar tetap berada di dalam hatinya. Jadilah orang-orang yang terluka itu sebagai mereka yang enggan berubah.
Namun, yang namanya luka tetap saja luka. Sama seperti luka pada tubuh. Tetap ada pelajaran dari dari luka, tanpa kecuali dengan luka hati.
Apa?
Pelajaran untuk berhati-hati agar kita tak melakukan hal yang sama yaitu menyakiti orang lain atau pelajaran untuk berkaca kepada diri sendiri apa saja yang perlu diperbaiki agar tidak terluka lagi.
Atau pelajaran untuk lebih sabar.
Atau pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih kuat.
Atau mungkin, pelajaran untuk menjadi orang yang lebih bijak dalam segala hal, termasuk dalam mendoakan. Karena konon, doa orang yang sedang tersakiti (hatinya) lebih bertenaga, lebih cepat sampai kepadaNya. Daripada berdoa buruk dan memaki, doakan saja Indonesia dan seisinya baik-baik saja. Saya rasa itu lebih berguna.
Selamat belajar dari luka.
Aan Sopiyan
Inspired by Ades Justitia
