Kritik Tanpa Luka

29/05/12

“Kadang kita hanya siap memulai sesuatu tanpa siap menanggung resikonya. Maka pertimbangkan segala sesuatu dan janganlah pernah menabuh genderang peperangan jika kita tidak memiliki kemampuan untuk bisa memenangkannya” – Dewi TRACS
Source by Google

Saat kita berharap kualitas yang harusnya lebih baik dari apa yang sedang kita lihat, ada kecenderungan untuk memberikan komentar. Komentar pun tidak jarang kita alamatkan dalam bentuk kritik. Tanpa kita sadari pula sebuah kritik cenderung membuat orang lain merasa malu, tersinggung, bahkan terluka hatinya.

Sedikit menyampaikan terkait kritik dari saya. Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Itu pengertian kritik yang saya kutip dari Wikipedia.

Hanya saja, tidak mudah menemukan orang yang menganggap kritik sebagai suatu bagian proses perbaikan yang pantas diperhatikan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi atau memperbaiki pekerjaan dan lain sebagainya. Setiap orang butuh kedewasaan yang lebih untuk hal itu. Apalagi, ada loh orang yang punya kecenderungan selalu mengkritik dan tidak bisa melihat sisi lain dari seseorang.

Dan bicara soal kedewasaan, saya suka sekali apa yang ditulis oleh Mario Teguh saat ditanya terkait apa itu kedewasaan.
“Om Mario, bantuin dong aku yang remaja ini, apa itu arti kedewasaan?
Adikku yang baik hatinya, Kedewasaan adalah TETAP menjadi anak muda yang nakal,
suka ngerjain orang, lucu, unyu-unyu, spontan, kreatif, dinamis, dan impiannya tinggi, PADA USIA BERAPA PUN, SAMPAI AKHIR USIA.
Tapi tidak meratap lemah saat bersedih, tidak mencak-mencak norak saat marah, tidak membantah yang tidak diketahuinya, tidak sombong karena tahu atau punya,
bersahabat dalam ketulusan, mencintai dengan setia, tidak berebut mainan dengan anaknya, mengabdi untuk memuliakan atasan, memimpin untuk membahagiakan bawahan, berlaku lembut dan penuh kasih kepada orang tua, wanita, dan anak-anak.
Dan ituuuuu semua … kau lakukan karena cinta dan pengabdianmu kepada Tuhan. Sesungguhnya, kedewasaan yang indah akan menjadikanmu anak muda yang anggun sepanjang hidupmu. Bagaimana mungkin engkau tak mensyukuri kehidupan. Orait?”

Coba kita tanyakan pada diri kita masing-masing, mengapa kritik bisa membuat kita tersinggung? Jawabannya sederhana, dari sumber yang saya baca, yakni bahwa kritik itu langsung mendobrak ego kita. Sementara, semua orang tahu bahwa ego adalah satu-satunya bagian dari seseorang yang rapuh. Ketika ego terluka, ancaman terhadap citra diri mulai dirasakan. Akibatnya, kita lalu mengambil sikap ofensif (menyerang).
Tak ingin dipuji karena akan merasa diberuntungkan. Sebab selalu ada celah yang kadang membuat aku mengalah, tanpa disadari dengan perasaan yang meninggi dan lupa ada hal lain yang perlu dibenahi. - Bianglala Basmah

Namun kritik memang perlu, asal dilakukan pada saat yang tepat. Jika Kamu ingin mengkritik seseorang, maka salah satu strategi terbaik adalah dengan memberikan jarak antara kejadian dan waktu untuk mengkritik. Atau, kritiklah seseorang setelah kejadian itu beberapa waktu berlalu. Mengkritik orang lain dengan pendekatan personal sangat dianjurkan. Dengan demikian, Kamu akan menjadi “dewa” penyelamat, bukannya menyandang gelar sebagai tukang kritik yang selalu melukai hati.(*)

Aan Sopiyan
29 Mei 2012

PS: Terima kasih untuk Wikipedia, buku Bread for Friends, Mario Teguh, Dewi, Basmah (maaf belum izin ambil kutipannya). Juga spesial untuk teman-teman di TRACS dan IM Rumah Zakat, bersama kalian banyak kritikan yang membangun pribadi saya. Mudah-mudahan Allah semakin mendewasakan kita semua. Aamiin

Saat Kami Saling Mengagumi

15/05/12

Harumnya setangkai bunga tak akan menentang angin, tetapi kehormatan dan nama baik seseorang terbang ke seluruh dunia walaupun menentang angin.*

Ini kisah sederhana kami. Diawali dari sebuah perkenalan yang sederhana. Lantas ada obrolan-obrolan yang sederhana, tapi kemudian menjadi tidak biasa. Ada berbagai persamaan antar kami yang muncul satu persatu tanpa sengaja seolah menjadi kejutan manis yang kami dapat tiap harinya.

“Aku cantik, kan?”, katanya, “sudah banyak kok yang menawari jadi fotomodel”.
“Masa?”
“Ih, gak percayaan amat sih kamu!”
“Haha.. iya aku percaya kok”, kataku, “percaya banget kamu cantik”.
“Bohoong.....”
“Serius...”

Pernahkah kami berselisih paham? Sering. Meskipun kepala kami sama kerasnya, tapi kami juga bisa saling mengalah. Beradu argumen sudah jadi hal biasa. Tak mudah memang untuk melakukan kompromi, tapi kami sepakat untuk terus belajar saling mengerti. Di sisi lain, tetap ada hal-hal yang kami biarkan melekat pada diri masing-masing tanpa perlu dipaksa untuk “disamakan”. Kami memang berbeda, itu sudah pasti.

Ada satu nasehat yang senantiasa kami pegang. Yakni, hiduplah dengan perjuangan yang sebenar-benarnya. Walau hanya sesaat saja, hidup benar-benar tak pernah mudah untuk dilalui. Sebagian dari kita hidup meluncur begitu saja tanpa arah dan tujuan. Namun ujungnya mereka sadar mereka terlalu cepat dan terhempas begitu saja. Tak melihat pegangan untuk bertahan. Mereka jatuh, begitu saja!

“Aku lelah,” katamu.
“Ya aku melihatnya, merasakannya..”
“Kenapa aku ditempatkan ditempat yang membuatku tidak bahagia?”
“Sabar aja..” kataku.
“Iya, mungkin aku cuma bisa sabar”
“Aku bersamamu, aku janji”
“Meski mungkin kita ditakdirkan tak bersama?”
“Iya. Meski!”

Kami tidak mau seperti itu, bagian yang jatuh. Ada harapan yang senantiasa kami genggam. Senantiasa ada, seperti matahari yang terbit di ufuk menjadi cahaya yang menerangi saat gelap dikala malam. Menghangatkan hati kami.

Lantas, kami pun memulai perjalanan untuk memaknai kedamaian-kedamaian secara sederhana. Sederhana, karena kami memang tidak bisa muluk-muluk. Sejujurnya, sederhana juga merupakan kata kunci kenapa kami saling mengagumi.

#Draft Cerpenku // AnsopiY
15 Mei 2012
24 Tahun Sudah Usiaku.

*Kutipan: Sidharta Gautama

Renungan Diri

04/05/12

Membaca tulisan yang baik itu seperti menasehati diri sendiri, dan kita merasa tidak terhina dengan tulisan itu. Meski, barangkali, yang menulis itu bukanlah siapa-siapa di mata kita.

Terima kasih padamu yang dengan rela berbagi hikmah atas apa yang telah direnungkan, juga (mungkin) dengan sudi menyembunyikan namamu dalam sebuah tulisan yang bagus sekali berikut. Tulisanmu menggugah nuraniku, menggetarkan jiwa, menjadi satu oase dalam kehidupanku. Semoga kebaikan senantiasa ada padamu.

Renungan Diri

"Ketika aku berpikir negatif pada seseorang, tanpa sadar aku telah menghakimi orang itu".

Lebih mudah mana?
Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka.

Lebih mungkin mana?
Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman, atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri..?

Lebih mudah mana?
Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan, atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?

Lebih penting mana?
Berusaha menguasai orang lain, atau belajar menguasai diri sendiri?

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada orang lain.

Bukan orang lain yang bikin aku bahagia, melainkan sikap diriku sendiri-lah yang menentukan, aku bahagia atau tidak.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali. Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu BELAJAR dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik.

Hidup adalah PROSES, Hidup adalah BELAJAR.
Tanpa ada batas umur.

JATUH...., berdiri lagi ..
KALAH..., mencoba lagi ..
GAGAL..., bangkit lagi ...

Have a nice and blessed day .... ({})

**
Copy-Paste dari status FB seorang teman yang juga mendapatkan renungannya dari sebuah grup whatsapp.

Follower

 

Entri Populer