Tak Lebih Dari Seorang Hamba

31/07/11

Aku Bersujud by Mr-Aan
Aku Bersujud, a photo by Mr-Aan on Flickr.
Campakkan rasa cinta kepada kedudukan, kehormatan dan popularitas. Beramallah dengan keyakinan, keteguhan, dan keberanian, dengan tawakal kepada Allah dalam menunaikannya.

"Dan Allah tidaklah akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia "(QS. Al-Baqarah [2] : 143)

Hasan Al-Banna

Beberapa hari kebelakang, perenungan saya sangat dihiasi oleh perenungan akan eksistensi atau keberadaan dari diri ini. Kehidupan atau rutinitas sehari-hari yang mengolah pikiran dan perasaan saya membentuk satu sosok yang kini orang-orang sering memanggil saya: Aan Sopiyan. Tapi, bagi saya sendiri, “Siapa saya?”

Dua puluh tiga (23) tahun lebih hidup di dunia jika dalam perhitungan kalender Masehi (Syamsiah), tepatnya lahir tanggal 15 Mei tahun 1988. Atau hampir 24 tahun jika menghitung dari kalender Hijriah (Qomariah). Ibuku sering bercerita bahwa dahulu saya lahir di bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri. Setelah dihitung-hitung tepatnya lahir tanggal 29 Ramadhan 1408 dalam kalender Hijriah.

Selalu tertegun jika ada pertanyaan yang terlontar tentang “siapa saya?” dari diri sendiri atau bahkan dari orang lain saat bertanya “siapa kamu?”. Ya, siapa sih diri ini?

Lantas, kalau saya pikir-pikir lagi. Ternyata, hidup memang selalu terkait dengan pencarian jawaban tentang diri. Tentang bagaimana kita bisa mengenali diri sendiri. Untuk apa? Untuk mengenali yang lainnya. Untuk mengenali manusia-manusia, lingkungan, alam semesta, bahkan yang lebih dari itu semua: Tuhannya.

“Barangsiapa mengenal diri (sejati)nya, akan mengenal Tuhannya”.
Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu. Konon itu kata-kata Baginda Rasulullah SAW (meski masih banyak perdebatan).

Ada ilustrasi yang menarik dari sebuah buku, Doa Sang Katak, karya Anthony De Mello:
Dalam keadaan sakratul maut, seseorang tiba-tiba merasa berada di depan sebuah gerbang.
“Tok, tok, tok,” pintu diketuk.
“Siapa di situ?” ada suara dari dalam.
Lalu dia seru saja, “Saya, Tuan.”
“Siapa kamu?”
“Watung, Tuan.”
“Apakah itu namamu?”
“Benar, Tuan.”
“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu.”
“Eh, saya anak lurah, Tuan.” Wajahnya mulai plonga-plongo.
“Aku tidak bertanya kamu anak siapa. Aku bertanya siapa kamu.”
“Saya seorang insinyur, Tuan.”
“Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya: siapa kamu?”
Sambil masih plonga-plongo karena nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya ditemukanlah jawaban yang rada agamis sedikit.
“Saya seorang Muslim, pengikut Rasulullah SAW.”
“Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu.”
“Saya ini manusia, Tuan. Saya setiap Jumat pergi jumatan ke masjid dan saya pernah kasih sedekah. Setiap lebaran, saya juga puasa dan bayar zakat.”
“Aku tidak menanyakan jenismu, atau perbuatanmu. Aku bertanya siapa kamu.”

Akhirnya orang ini pergi melengos keluar, dengan wajah yang masih plonga-plongo.

Dia gagal di pintu pertama, terjegal justru oleh sebuah pertanyaan yang sungguh sederhana: siapa dirinya yang sebenarnya.
Nggak mudah, ya? Nyata-nyatanya kita nggak paham siapa diri kita sendiri. Kebiasaan kita hanya mengasosiasikan sesuatu terhadap diri kita: nama, keluarga, teman, pekerjaan, jabatan, kekayaan, jenis kelamin, bentuk tubuh, dan lain sebagainya. Kita melabeli diri kita dengan sesuatu itu, lalu merasa bahwa label itulah diri kita. Pikir lagi deh: apakah ‘aku’ sama dengan ‘tubuhku’?

Mungkin saja. Tapi bisakah kita mengabaikan perkataan agung: “Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.”?

Saya teringat dengan tulisannya Ir. Bambang Pranggono, MBA dalam artikelnya “Melihat Allah di Sinai”. Jadi, dalam tulisan tersebut mengutip seorang Prof. Dr. Muhammad Tahir al-Qadri, ulama Pakistan pendiri Idarah Minhajul Qur’an di Lahore, yang memiliki kiat untuk bisa “melihat” Allah di dunia. Ia menguraikan makna ihsan secara berbeda dalam bukunya Islamic Philosophy of Human Life. Ketika malaikat Jibril bertanya tentang Iman dan Islam kepada Rasulullah saw. lalu dijelaskan oleh beliau, Jibril berkata, “Kamu benar.” Lalu Jibril bertanya lagi, “Apakah ihsan itu?” Rasul menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Dia, maka bila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” Jadi, ihsan adalah beribadah dengan merefleksikan sifat Allah, al Bashir, Yang Maha Melihat.

Tetapi bagaimana kita bisa beribadah seolah-olah melihat Dia? Menurut Prof. Tahir al-Qadri, kalimat hadis tadi harusnya dipenggal secara berbeda, bukannya fa in lam takun tarohu, tetapi fa in lam takun, tarohu. Terjemahnya ialah, “Maka bila kamu tidak ada, kamu akan melihat Dia”. Allahu Akbar.

Rupanya penghalang untuk bisa melihat Dia adalah sikap mendewakan diri. Ketika seseorang masih mempertahankan keberadaannya, masih mementingkan eksistensinya, masih mendahulukan kepentingannya, ia tidak akan bisa “melihat” Allah. Ia tidak akan bisa menghayati kebesaran-Nya. Ia tidak akan bisa mengerti keadilan-Nya. Ia tidak akan bisa menyaksikan keindahan-Nya. Ia tidak akan bisa merasakan kehangatan kasih sayang-Nya. Maka untuk bisa khusyu’ seolah-olah melihat Dia, kita harus meleburkan diri, menghancurkan diri, bagaikan gunung yang sirna mencair oleh tajalli, cahaya Allah. Semakin larut kita menghampakan diri dalam fana, semakin jelas wajah Allah bagi mata hati kita. Ihsan adalah Zero Mind Process. Lenyapkan dirimu, kamu akan “melihat” Allah. Wallahu A’lam.

Hikmahnya, bagi saya sendiri, jawaban paling esensi dari pertanyaan “Siapa saya?” atau “Siapa kamu?” adalah “Saya hanya seorang Hamba Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Tidak lebih..”(*)

Cimahi, 31 Juli 2011 (30 Sya'ban 1432 H)
Marhaban Ya Ramadhan


Aan Sopiyan

Duduk Sejenak

19/07/11

Duduk Sejenak by Mr-Aan
Duduk Sejenak, a photo by Mr-Aan on Flickr.
Dalam sebuah kenangan akan kebersamaan yang singkat, terus terbuka cerita-cerita lama. Antara cinta dan kesalahan, mengaburkan logika dan realita. Sebuah perbedaan, sebuah keterpisahan. Walau dalam terpaan kerinduan, tak mampu menyampaikan rasa, bahkan langit seolah tak memihak, namun harapan selalu ada. Untuk esok dan seterusnya. Hingga kini kita hanya butuh menunggu, sampai hari nanti, atau sampai segalanya sudah tertutup. Maka besabarlah...
My Notes, 15 Februari 2008

Hidup memang kadang-kadang terasa begitu cepat. Sayangnya juga terkadang begitu sangat melelahkan. Kita penat, jenuh, suntuk, bosan, malas, ah.. dan masih banyak lagi hal yang begitu memuakkan! Bagaimana tidak, idealisme tentang diri ini yang sering digadang-gadangkan kenyataanya tak sesuai dengan realitas yang ada. Hidup menawarkan banyak pilihan. Namun tak semua pilihan itu selaras dengan siapa diri kita, dengan apa yang kita inginkan.

Saat banyak orang ingin bicara ini dan itu tapi justru kita ingin diam, atau saat orang-orang beramai-ramai mengatakan “iya” padahal kita ingin berkata “TIDAK!!!” tapi dengan kelunya lidah ini kita tak bisa berbuat sesuai apa yang kita inginkan. Sakit, sakit memang. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Jika tanpa terasa idealisme kita tergeser lantaran pikiran kita terbawa arus yang kita tidak menyadarinya. Belum lagi kondisi jiwa kita yang terus bergejolak mempengaruhi pikiran kita. Dalih kita, “Ya memang, begitulah kehidupan”. Kehidupan memang meletihkan. Kita jadi tidak peduli dengan situasi dan kondisi. Lelah, itulah yang sering kita rasakan. Kita jadi sering merasakan kejenuhan. Wajarkah? Sangat wajar.

Tapi yang harus kita ingat, gelombang dan badai itu harus dipahami sebagai ladang ujian, problematika hidup merupakan hal tidak bisa dipisahkan dari hidup, pahit getir menjadi bumbu yang harus dirasakan oleh setiap kita, jatuh bangun adalah tangga yang harus dilalui dalam menggapai sebuah cita-cita. Jangan pernah ada perasaan pesimis apalagi putus asa karena di balik semua itu pasti ada sesuatu yang dapat kita jadikan pengalaman yang berarti.

Lalu yang kita perlukan adalah berhenti sejenak. Berhenti ini tentu saja bukan berarti selesai atau sampai di sini. Ini untuk menjaga ketajaman diri kita agar bisa menangani masalah hidup dengan lebih baik. Nah, bayangkan kita sedang jalan-jalan ke hutan dan bertemu dengan seseorang yang sedang mati-matian memotong pohon.*

“Sedang ngapain?” kamu tanya.
“Menggergaji pohon”, jawabnya.
“Sudah berapa lama kamu menggergaji?”
“Empat jam, tetapi banyak kemajuan kok,” katanya, dengan keringat menetes dari dagunya.
“Rasanya gergajinya sudah tumpul”, katamu. “Mengapa tidak istirahat dulu sambil mengasahnya?”
“Mana mungkin, tolol. Aku sedang sibuk menggergaji”.
Akhirnya kita semua tahu siapa yang tolol, bukan?

Intinya, kita butuh waktu untuk melihat kondisi kita. Kita terkadang lupa bahwa ada yang harus kita tengok dalam diri kita, "ruhiyah" kita. Tentang nilai tertinggi dalam diri kita. Tentang kepercayaan atau keyakinan, inilah tentang keimanan. Kondisi yang selalu membutuhkan suasana yang teduh, tenang sehingga ia menjadi kekuatan yang akan melindungi jiwa kita dari berbagai rintangan dan halangan. Kita butuh ketegaran jiwa dalam menghadapi hiruk-pikuk kehidupan. Barangkali yang paling tepat adalah seperti yang senantiasa diajarkan oleh Muadz bin Jabal ra, kepada sahabatnya dengan ungkapannya yang menyejukkan hati mereka, “Mari (kita) duduk sesaat untuk beriman”.(*)

Catatan Di Suatu Hari

10/07/11

Lampu Jalan by Mr-Aan
Lampu Jalan, a photo by Mr-Aan on Flickr.
#1 Tanya Di Suatu Pagi Hari...
 
Rintik hujan turun pagi ini. Sinar matahari sedikit saja menerangi duniaku. Hawa dingin yang menerpa raga nyata-nyatanya selimuti hati yang di dalam dada. Kesendirianku menjalani hidup menambah sendu. Merdu suara hujan, rayuan hembusan angin lebih terdengar layaknya tangisan anak. Di mana kini duniaku?

“Bisa tolong jelaskan, jalan mana ya yang harus kuambil dari sini?”
“Tergantung kamu maunya kemana”, jawab sang kucing.
“Ke mana juga boleh”, kata Alice.
“Ya, kalau begitu, jalan manapun boleh kamu ambil”, kata sang kucing.
DARI ALICE’S ADVENTURES IN WONDERLAND

#2 Asaku Di Suatu Senja Hari...

Dengan sepenuh hati, lisan ini berdoa kepada Allah bahwa mudah-mudahan Allah senantiasa memakmurkan tempat ini. Tempat di mana semasa kanak-kanak dahulu aku belajar tentang bagaimana bangkit dan berjuang untuk melangkah dan berjalan. Mendapatkan cinta dan kasih-sayang tulus ikhlas orangtua. Persaudaraan dan kebersamaan dalam kekerabatan. Di tempat yang menjadi naungan saat kembali kita, di tempat peristirahatan kala kepenatan mendera jiwa dan raga. Ya, di tempat ini, di sini, rumah ini.

Aku kemudian belajar untuk tumbuh dewasa mengarungi samudera kehidupan.

Aku tahu tidak semua rumah sama. Jiwa-jiwa didalamnya yang melahirkan perbedaan, bisa atas apa yang dilihat oleh mata, bahkan lebih dari itu, yakni atas apa yang dirasa oleh hati. Rumah yang baik selalu indah dipandang mata dan mengesankan saat dirasakan hati. Namun demikian, keindahan dan kenyamanan tidaklah membuat jiwa-jiwa didalamnya berdiam diri saja. Sebaliknya, ada gelora yang membara untuk menggugah dunia fana. Menjadi sebuah tempat mengisi ulang kekuatan untuk berjuang diluarnya.

#3 Dan Kini Malam pun Tiba...

“Jauh lebih baik berlayar selamanya dimalam kebutaan. Tetapi mempunyai perasaan dan pikiran, daripada hanya berpuas diri dengan kemampuan untuk melihat semata.” – Helen Keller.

Harus bisa dengan baik merenung. Ya, harus bisa merenung. Merenung yang tak sembarang merenung. Lebih dari itu, hasilnya adalah sesuatu yang harus bermakna. Sebaiknya tidak bagi diri sendiri saja, tapi juga bermakna untuk kehidupan.

Disetiap siang dan malam, sang perindu senantiasa merindukan yang dirindukannya.
Layaknya bulan dan bintang yang tak bersamaan menerangi malam di malam ini.
Namun, berharap suatu malam nanti,
esok atau lusa,
kembali bersama-sama tuk menerangi dunia malam, hati sang perindu.
Semarakkan dunia yang konon, baginya kini, sedang terbang melayang tanpa arah.
Rindu yang tertanam dalam dua hati,
saling menebar cinta.
Mengkokohkan kasih Tuhan.
Melalui sayap-sayap malaikat-Nya, mempertegas arah menuju kekasih yang ditunggu kehadirannya.

Rindu Tak Membuatku Menyerah

02/07/11

Tak Membuat Kita Menyerah by Mr-Aan
Tak Membuat Kita Menyerah, a photo by Mr-Aan on Flickr.

Dalam setiap kesendirian, dalam setiap keheningan dengan kesepian kita.
Ku tak ingin mereka ragu. Bahwa aku pun bisa menggapai setiap asaku.
Hanya yakin menunggu jawaban – Siti Nurhaliza
# Yang Telah Jauh...

Apa yang hendak kutulis tentang kamu dan kehidupanmu? Tak ada barangkali, tak ada yang terpikirkan. Kalau begitu ini hanya sebuah corat-coret belaka, tanpa arti, tanpa makna. Ah, seandainya kamu tahu betapa aku kebingungan berpikir tentangmu. Yang satu pergi tanpa kejelasan kata-kata. Membuatku kelu, tanpa arah dalam berpikir, tanpa kehendak lagi. Yang satunya lagi, kau tak pernah benar-benar mencintaiku. Kamu-kamu hanya berjuang mendapatkan dirimu. O... mungkin hanya aku yang tak pernah tahu? Tak pernah sadar tentang keberadaanmu. Tapi kini kau jauh, jauh sekali. Hatimu dimana?

# Itu Sudah Berlalu...

Apa yang terjadi antara kita dahulu aku ingin melupakannya, tapi tak bisa. Rasa yang tertanam dalam hatiku sejak dahulu tentangmu ingin kuhilangakan saja, tapi tak bisa. Seandainya kau tahu apa yang ada dalam pikiranku saat ini adalah tentangmu, mungkin kau kelak akan menatapku dengan bangganya. Atau sudah tahukah engkau? Ah, kau tak pernah benar-benar memberitahuku tentang perasaanmu...

Sekarang, bertahun-tahun sudah berlalu. Kemungkinan kisahnya akan segera berakhir. Antara kau dan aku, yang tak lagi pernah bertemu. Kau dengan dirimu, aku dengan diriku.

Kita masing-masing memiliki kisah yang berbeda. Dunia yang penuh dengan persahabatan atau permusuhan, tentang percintaan atau tentang kebencian. Kita punya masing-masing, tak tahu satu sama lain. Dan biarlah semua itu sesuai dengan apa adanya.

Kita perbaiki saja apa yang ada dalam diri kita sekarang. Biarkan masa lalu berlalu. Hidupku kini bukan untuk memikirkan dirimu saja, mungkin begitu juga engkau? Semoga kita tahu dan paham dengan setiap rencana-rencana kita. Lebih penting dari itu rencana Tuhan tentang kita. Tentang dunia yang kita ada didalamnya saat ini.

# Memang Cinta Seperti Itu


Hiduplah dengan perjuangan yang sebenar-benarnya. Walau hanya sesaat saja, hidup benar-benar tak pernah mudah untuk dilalui. Sebagian dari kita hidup meluncur begitu saja tanpa arah dan tujuan. Namun ujungnya mereka sadar mereka terlalu cepat dan terhempas begitu saja. Tak melihat pegangan untuk bertahan. Mereka jatuh, begitu saja!

Santai saja, tapi serius. Kita belajar untuk menikmati prosesnya, meski tak pernah tahu apa hasilnya. Namun demikian berekspektasilah! Milikilah lilin-lilin harapan akan pada apa kita akhirnya, hasilnya. Jaga terus cahayanya. Biarkan ia menerangi kita, meski dalam gelap. Meski dalam diam. Meski dalam hening. Hingga nanti, betapa terkejutnya kita semuanya telah sama dengan apa yang menjadi harapan kita hasilnya.

Sekali lagi, ini tidak mudah memang. Tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan, untuk diwujudkan. Kau akan tahu, memang cinta seperti itu.(*)

Be A Great ZISCo Online

01/07/11

Tulisan berikut sedikit berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Bukan apa-apa, tulisan ini hanya terkait dengan bidang pekerjaan saya saat ini. Mohon maaf bila ada hal-hal yang kurang berkenan. Juga mungkin ada beberapa istilah yang sedikit kurang bisa dipahami. Tapi mudah-mudahan itu tidak mengurangi esensi penting dari tulisan ini sendiri. Dan yang paling penting: mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat, untuk siapa pun. Amien.***

Be A Great ZISCo Online

“This part of my life... this part right here? This is called ‘happyness.’” – Chris Gardner, Film Pursuit of The Happyness.

Berinteraksi dengan dunia maya sudah jadi kehidupan baru bagi sebagian penduduk dunia, tanpa terkecuali saya. Sebagai ZISCO Online di divisi Internet Marketing Rumah Zakat, inilah aktifitas saya paling terbanyak porsinya dibandingkan aktifitas langsung bertatap muka dengan donatur atau customer.

Blog, Facebook, Twitter, Chatting, Email, dan masih banyak lainnya sudah bukan barang baru lagi. Memang, untuk proporsi jumlah Netizen (mereka yang menghabiskan waktu 24-jam-nya, dengan terus berjuang tetap Connect! di dunia online lewat teknologi Internet dan mobile Internet) di Indonesia sendiri masih terhitung sedikit. Namun, rasa-rasanya sebagian besar para kaum intelektual percaya bahwa dunia maya (internet) akan, atau bahkan sudah, menjadi dunia baru bagi manusia yang tanpa batas wilayah dan waktu. Oleh karena itu, Internet Marketing merupakan layanan yang sangat prospektif dari sekarang hingga kedepannya.

Di sisi lain, barangkali kita tidak perlu naif juga dengan meng-dikotomi-kan dunia nyata dengan dunia maya (internet). Sebaiknya kita lihat bahwa internet adalah bagian dari betapa luasnya dunia ini. Toh, pelakunya sama-sama manusia juga.

Masih dari sumber yang sama seperti kutipan di atas, saya ingin mengutip dari apa yang ditulis oleh Chris Gardner sebagai berikut:

“It was right then that I started thinking about Thomas Jefferson on the Declaration of Independence and the part about our right to life, liberty, and the pursuit of happiness. And I remember thinking how did he know to put the pursuit part in there? That maybe happiness is something that we can only pursue and maybe we can actually never have it. No matter what. How did he know that?”

Apa kaitan kutipan tersebut dengan internet? Dalam pikiran saya yang sederhana ini, saya mengaitkan bahwa di internet, dalam segi pergaulannya, konon bisa lebih memberikan hak untuk hidup (our right to life), kebebasan (liberty), dan mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness) daripada dunia kita yang sebenarnya.

Lantas, apa yang menarik dari yang ditulis oleh Chris Gardner itu? Tampaknya Gardner terkesan juga dengan frase “life, liberty, and pursuit of happiness” yang tertulis di Declaration of Independence. Entah apa yang ada dalam benak Thomas Jefferson saat itu hingga meletakkan kata “pursuit of” (mengejar) sebelum kata “happiness” (kebahagiaan) di sana. “Mungkin kebahagiaan adalah sesuatu yang hanya bisa kita kejar dan mungkin sebenarnya kita tidak pernah dapat memilikinya,” demikian Gardner menerangkan.

Dan, apakah alasan dari Chris Gardner justru malah mengganti huruf “i” pada kata “happiness” menjadi “y” hingga tertulis “happyness” dalam film atau buku Pursuit of The Happyness? Untuk mengetahui itu sebaiknya kamu tonton filmnya atau baca saja bukunya. Kamu akan mengerti dengan menonton atau membacanya.

Sebagai salah satu front liner Rumah Zakat, ZISCO Online bisa banyak mengambil pelajaran dari “Pursuit of The Happyness”. Chris Gardner sebagai tokoh utama digambarkan sebagai seorang salesman. Ia memiliki kelebihan yakni kecerdasan dalam matematika dan mengingat. Bahkan ada satu adegan dimana Chris Gardner mampu menyelesaikan permainan rubik yang populer dengan waktu beberapa menit saja. Namun demikian kehidupannya dibingkai dengan konflik rumah tangga, pengangguran, dan kemiskinan.

Tapi Chris Gardner adalah sorang pejuang. Hingga diakhir kisah, dia yang seorang salesman berhasil sebagai seorang pialang saham yang sukses. Banyak sekali pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dalam kisah Chris Gardner itu.

Sebagai kesimpulan, saya ingin mengutip tulisannya Herry Tjahyono dalam artikelnya yang berjudul “Melihat Jauh Ke Depan” di koran Kompas 14 February 2009. Saya mencoba mengambil persamaan dari artikel tersebut dengan tulisan saya ini. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak.

Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman (good). Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja.

Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great.

Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk “melihat lebih”! Chris Gardner menggunakan potensi-potensinya untuk “Melihat lebih jauh” kehidupannya, beyond the job!

Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu “memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita.

Keempat hal tersebut memang benar bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan. Tapi bukan   berarti itu tidak mungkin dilakukan. Sebagai bagian dari front liner Rumah Zakat, ZISCO Online akan selalu memiliki kontribusi tersendiri dalam kiprahnya di lembaga ini. Bukan kontribusi biasa (good), tapi luar biasa (great). Tidak lama lagi, kok! Insya Allah ... (*)

Cimahi, 13 Mei 2011
Aan Sopiyan
ZIS Consultant Online
Rumah Zakat

Follower

 

Entri Populer